Cerita Jalan Hidup Dahulu Kala

Cerita berlanjut ke sisi paling krusial. Perjalanan pertamaku di ibukota mestilah membawa satu hasil. Tidak muluk memanglah. Cuma satu pernyataan kalau saya lulus beasiswa universitas usaha itu serta resmi jadi mahasiswa disana.

Tetapi, untuk memperoleh kata ‘LULUS’ tersebur nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha yang begitu keras dan doa ekstra deras, fikirku.

Bayangan tes masuk yang masih tetap samar-samar. Beberapa puluh peserta beasiswa lain yang pasti mempunyai pengalaman serta pengetahuan yang tidak sama dariku jadi satu diantara sebab yang ragukan diriku.

Benar saja. Ketidaksamaan tes masuk pada kampus serta universitas itu tidak sama jauh. Begitu jauh tidak sama. Terlebih waktu tes session ke-2 berjalan.

Tidak sama Namun Tetaplah Satu Jua

Asing, namun asyik dan seru.

Kesan pertama waktu berteman dengan peserta-peserta lain dari daerah lain. Bhs Indonesia yang untuk pertama kalinya dipakai dengan cara segera di lapangan. Bukanlah di depan kelas.

Berjumpa dengan orang Sunda untuk pertama kalinya nih. Seru, euy. Logat bicaranya unik sekali. Berbanding lurus dengan orangnya juga. Sebut saja dia Popo.

Dia membuatku mengagumi akan karna telah mengelola usaha sendiri sekalian jadi pengurus di koperasi di daerahnya. Mengagumkan. Saya yang barusan lulus, bahkan juga belum dapat apa-apa. Sungguh miris.

Perjumpaan untuk perjumpaan berlangsung. Sampai hingga saat dhuha, beberapa peserta semasing lakukan shalat dhuha di pendopo bambu di samping kafetaria di belakang gedung paling utama.

Kesan awal lihat peristiwa itu, saya takjub. Seakan memanglah telah ajalnya, mereka yang menginginkan jadi seseorang pelaku bisnis atau wiraswasta harus melakukan shalat dhuha sehari-harinya.

Betul-betul satu lingkungan yang begitu kondusif. Teruntuk beberapa wiraswastawan berhasil hari esok.

Jadi Boss dalam Satu hari!

Meskipun cuma penambahan di depan nama, di panggil dengan embel-embel boss terdengar begitu keren. Oleh tim penguji di universitas itu, semuanya peserta harus di panggil dengan titel Boss. Siapa saja dia, baik laki atau perempuan.

Untuk tim penguji, untuk lelaki harus di panggil Mister serta Miss untuk perempuan. Semuanya titel itu memanglah jadikan budaya di universitas usaha itu. Lantas, menjelmalah semuanya peserta tes beasiswa itu jadi boss dalam satu hari.

Lantas, sesudah semuanya peserta dihimpun kedalam kelompok-kelompok dimulailah tes session pertama pada hari itu. Semuanya grup bakal diarahkan oleh satu orang pembina dari tim penguji. Terdapat banyak Miss sebagai tim penguji sekalian pembina semasing kelompoknya.

Masuklah satu persatu peserta kedalam satu ruang yang sudah disiapkan. Ada sekitaran empat atau lima ruang waktu itu. Bila nama peserta di panggil, ia masuk kedalam ruang serta bakal kembali sebagian menit lalu.

Berselang sekian waktu, tibalah giliranku. Masuk dengan style sok imut. Bertatap muka dengan satu diantara Miss yang menurut beberapa peserta lelaki sesudah tes selesai, ia yaitu Miss yang paling cantik. Duduk di kursi pas di depannya. Lantas, dimulailah session wawancara.

Pertama, perjumpaan berlangsung. Ia memperkenalkan dianya terlebih dulu. Panggil saja Miss Prap, tuturnya. Oke, panggil saja Niko, kataku lalu. Tidak kenal, jadi tidak sayang. Untung tidaklah terlalu kenal, jadi masih tetap tidaklah terlalu sayang. Eaaa….

Ke-2, layaknya seperti peserta terlebih dulu saya diminta membaca surah al-Waqi’ah. Buka mushaf yang ada didepan lantas membacanya. Hanya sebagian ayat saja. Lima, seingatku. Sesudah usai, ku tutup mushaf itu serta diam sesaat.

Miss itu lalu ajukan sebagian pertanyaan seperti darimana asalku, kuliah di mana, jurusan apa, serta kenapa ingin kuliah di universitas usaha itu. Pertanyaan itu saya jawab seperlunya, tidaklah terlalu melebih-lebihkan. Session wawancara jalan enjoy.

Tidak merasa, semuanya peserta sudah usai diwawancara termasuk juga diriku. Session wawancara sudah selesai serta adzan Zuhur juga sudah bergema. Jadi, session ishoma diawali serta semuanya peserta kembali terpencar menuju maksud yang sama.

Semuanya Jalan Di luar Sangkaan

 

Sebelumnya setelah, lakukan shalat zuhur berjamaah oleh semuanya peserta, session istirahat disudahi dengan makan-makan di kafeteria di samping pendopo bambu.

Pernah antri karna tidak bisa tempat duduk. Jumlah kursi yang terbatas serta dengan cara mendadak jumlah konsumen yang membludak mendadak membuatku butuh menanti sebagian menit agar bisa jatah kursi.

Syukurlah terdapat banyak rekan yang juga turut mengantri. Sembari menanti pesananku di buat oleh bibi penjualnya, saya pernah mencari-cari tempat kosong untuk duduk. Pendek narasi. Anggap saya serta peserta yang lain telah usai dengan acara ganjal perut-nya.

Kembali naik ke lantai atas gedung tempat tes session ke-2 nanti bakal berjalan. Kesempatan ini semuanya peserta bakal dihimpun dalam satu aula paling utama di universitas itu.

Sesuai sama grup semasing, kami ditata sedemikian rupa oleh beberapa Mister serta Miss UU masuk ruang itu. Mereka menginginkan bikin satu dokumentasi. Berbekal senyum yang merekah di bibir serta lambaian tangan ke kamera, saya serta peserta yang lain didalam satu grup masuk aula itu.

Sudah berjejer beberapa puluh kursi yang terdiri jadi dua sisi. Sisi tengah berniat dikosongkan. Ke-2 sisi itu ditata sama-sama menghadap.

Sesudah semuanya peserta masuk tempat itu serta sudah tempati kursi sesuai sama nomor peserta semasing, seseorang lelaki berpenampilan menarik menerangkan tata teratur tes session ke-2.

Ia menerangkan kalau bakal ada empat puluh pertanyaan yang bakal diserahkan olehnya. Untuk menjawab pertanyaan itu, peserta mesti terlebih dulu mengacungkan tangan serta mesti memperoleh kesepakatan dari sang pembina grup.

Tes session ke-2 berjalan mengasyikkan. Beragam pertanyaan diserahkan waktu itu, dari mulai yang terkait mengenai universitas tersebut, mengenai pengetahuan keislaman sampai pertanyaan yang merujuk ke ranah pribadi.

Bahkan juga ada pertanyaan yang dapat disebut adalah satu tes kejujuran.

Untuk mereka yang shalat Subuh berjamaah pagi tadi. Silahkan berdiri.

Untuk mereka yang shalat Dhuha 8 rakaat. Silahkan berdiri.

WOW! Tes jenis apa ini? Mengagumkan. Betul-betul satu tes yang lain dari yang paling lain. Tak ada pertanyaan mengenai siapa penemu benda kecil seperti peniti atau bahkan juga hal besar seperti teori keseimbangan suplai serta permintaan.

Tak ada pertanyaan yang sampai kini diserahkan bila menginginkan masuk kampus spesifik. Berapakah kecepatan satu kelapa yang jatuh dari pohon, umpamanya.

Dituntut kreatif serta aktif. Seseorang wiraswasta yaitu mereka yang reaktif serta cekatan waktu hadapi satu persoalan. Dituntut untuk jujur dan mempunyai integritas saat menggerakkan pekerjaan yang penuh tanggung jawab.

Singkat narasi. Beberapa puluh peserta sudah melalui beberapa puluh pertanyaan dari sang penguji. Semuanya jawaban yaitu benar, tidak ada kekeliruan dalam menjawab. Semuanya hanya mengenai persepsi pribadi.

Tetapi, bagiku. Menjawab semuanya pertanyaan terlebih dulu bakal jadi ‘sia-sia’ bila pertanyaan paling akhir tak dijawab sesuai sama kehendak sang penguji. Pertanyaan ke-40.

Satu Pertanyaan Pamungkas

“JIKA ADA SESEORANG YANG KAMU ANGGAP LEBIH PANTAS UNTUK MENDAPATKAN BEASISWA INI, MAKA SILAHKAN MENGUNDURKAN DIRI SEKARANG JUGA”

Saya telah lupa bagaimana redaksi pertanyaan paling akhir itu. Pertanyaan ke-40 yang juga ditampilan di depan beberapa peserta dengan memakai slide. Mungkin saja bukanlah satu pertanyaan namun satu pernyataan. Tetapi dasarnya, bila saya sebagai peserta terasa ada orang yang lebih layak terima beasiswa itu terkecuali diriku. Mengundurkan dirilah waktu itu juga.

Sebelumnya pernyataan itu diserahkan. Sang penguji memanglah sudah menerangkan kalau beasiswa universitas itu adalah dana yang diperoleh dari jalur ZISWAF satu instansi pengelola zakat di Indonesia. Hingga, tim penguji inginkan dana itu memanglah jatuh di tangan orang yang memanglah 100% pas serta layak memperolehnya.

Fikirku, saya memanglah layak memperolehnya. Toh, saya berasumsi diriku sebagai seseorang yang menginginkan menuntut pengetahuan serta memasukkan diriku kedalam kelompok fi sabilillah, yang bisa memperoleh dana zakat. Satu pengajian mengenai hal semacam ini pernah saya ikuti terlebih dulu. Namun saya lupa detailnya.

Terasa layak? Pertama iya dengan argumen diatas. Walau demikian, semua buyar karna sesudah alami sebagian peristiwa sebelumnya pertanyaan paling akhir diserahkan, saya sudah lihat sebagian keunggulan di peserta yang lain. Bukanlah kurang percaya diri, namun memanglah terasa ada yang lebih layak memperolehnya.

Lantas, sesudah sebagian peserta ada yang maju ke depan untuk mengungkapkan argumennya mengundurkan diri terjadi peristiwa yang menurutku di buat begitu dramatis. Ada beberapa dari peserta yang terharu bahkan juga berlinang air mata waktu mendengar argumen mereka yang mengundurkan diri.

Sama seperti denganku, maju ke depan serta tiba giliranku. Mengambil mic dari penguji serta mengemukakan sebagian patah kata dihadapan peserta yang lain. Coba bikin adegan lebih dramatis, lumayan lah ada yang sedikit bereaksi.

Usai semuanya orasi pengunduran diri, jadi usai juga tes seleksi step ke-2 pada hari itu. Tim penguji menyampaikan kalau pengumuman bakal di sampaikan sekian hari sesudahnya. Jadi, dimulailah penantian dengan hasil yang terpampang telah riil waktu itu, bagiku.

Penantian Tidak Berguna

Menanti atau ditunggu yaitu dua hal dalam satu dimensi yg tidak ku sukai. Walau demikian, penungguan kesempatan ini dapat disebut semu. Bukanlah riil. Menunggu satu berita yang hasil seutuhnya sudah di ketahui.

Peristiwa mengharukan waktu tes session ke-2 di gedung filantropi tempo hari pagi bikin jawaban dari perjuangan ku di tanah Betawi nampak ke permukaan. Untung saja dirumah Ka Dicky ada akses Wi-Fi. Koneksinya lumayan kencang. Cukup menghibur diriku di dalam penantian pengumuman hasil tes Universitas UU.

Sepanjang dirumah itu, saya tidak sangat banyak berhubungan dengan orang tempat tinggal. Ka Dicky serta istrinya yang tiap-tiap habis shalat Subuh segera pergi ke kantor, cuma tersisa ke-2 anaknya serta seseorang bibi pengasuh.

Satu diantara anak Ka Dicky tengah bersekolah di satu diantara SD di Jakarta, sedang yang lain masih tetap kecil sampai butuh pengasuh untuk mengurusinya. Sangat asyik di depan laptop bikin saya lupa makan. Perut yang terlebih dulu telah disumpali sarapan pagi saat ini mulai berteriak minta konsumsi gizi penambahan.

Tidak merasa, waktu itu telah nyaris tengah hari. Saya cobalah keluar tempat tinggal untuk mencari panganan di sekitaran sana. Di samping gang ada kios, ku beli saja sebagian roti serta satu minuman paket.

Sebentar sebelumnya masuk gang, sekilas saya lihat satu gerobak dengan seseorang lelaki paruh baya yang tengah repot bikin satu racikan makanan. Gerobak kecil bertuliskan cimol. Dalam fikir ku, cimol itu sejenis panganan semacam cilok. Saya sukai cilok.

Namun, ini cimol bukanlah cilok. Cilok saja enak terlebih cimolku, fikirku. Namanya telah serupa, tentu rasa-rasanya tak jauh tidak sama.

Namun, bayangan nikmatnya cilok selekasnya hilang sesudah saya mencicipi panganan yang baru saya beli itu. Nyatanya lain. Cilok tidaklah cimol serta cimol berbeda dengan cilok. Saya tertipu dengan nama yang nyaris serupa itu. Lidahku tidak sepaham dengan bayangan nikmatnya cilok.

Yah, sekurang-kurangnya rasa cimol masih tetap agak mendingan dibanding fakta yang sudah berlangsung sebagian jam waktu lalu. Bila saya mengetahui baik seseorang Dewi Fortuna, mungkin saja sepanjang sekian hari ke depan menginginkan saya ajak dia untuk makan cimol berbarengan. Siapa tahu hasil seleksi dapat sedikit beralih karena itu.

Pengumuman oh Pengumuman

Waktu itu sore hari sekitaran jam 5 sore hari, dua hari sesudah adegan cimol. Ku buka link yang menghadap ke satu penampilan hasil seleksi step pertama beasiswa. Pernah deg-degan juga. Namun, tidaklah terlalu mengharapkan banyak. Kelak jadi sakit. Peluang terburuk telah dipikirkan, tak lulus. Kembali pada Banjarmasin sesudahnya.

Nyatanya benar. Saya tak lulus dalam seleksi step pertama beasiswa itu. Peristiwa ini telah terduga terlebih dulu. Ingat peristiwa mengharukan yang saya sebut dimuka? Satu momen akibatnya karena pertanyaan paling akhir yang diserahkan pada semua peserta.

Pupus telah harapan masuk universitas usaha itu. Rasa kecewa pernah mengharu-haru hati selama seharian. Tetapi, untuk apa disesali? Tidakkah ini jua yaitu kehendakku sendiri. Pilihanku sendiri. Terima serta mengikhlaskan memanglah sulit dipraktekkan namun mungkin saja saja dikerjakan.

Selekasnya sesudah tahu hasil, saya segera menghubungi kakakku lewat telepon. Minta dibelikan tiket pulang untuk besok paginya. Lalu, menelepon ayahku menyampaikan kabar bila akhirnya nihil. Sesudahnya, menelepon Uwa. Reaksi Uwa agak sedikit tidak sama dari bapak serta kakak.

Akhirnya juga saya beritahu ke Ka Dicky, reaksinya umum saja sih. Namun, waktu itu saya di ajak untuk tinggal sebentar lebih lama. Ia menginginkan mengajak saya berbarengan keluarganya untuk berkunjung ke sebagian tempat di Jakarta. Agak tak nyaman menampik, namun ingin bagaimana lagi. Saya cuma menyampaikan kalau tiket telah dibayar oleh kakakku.

Meskipun tiket tak dibayar juga, saya juga tidak ingin turut. Telah tak ada mood sekedar untuk nikmati ibukota di akhir minggu. Saya menginginkan kembali pada Banjarmasin. Saya menginginkan pulang. Cuma menginginkan pulang serta kembali mengatur siasat ‘perang’.

Teror di Jakarta, Cafe Kopi Penuh Sinyal Tanya

Saat ini tiba waktunya untuk kembali pada kampung halaman. Walau sebenarnya belum genap satu minggu saya di Jakarta. Sesudah beres, memasukkan semuanya tetek bengek perlengkapan kedalam tas. Saya menanti Uwa datang untuk mengantarku ke bandara Soetta.

Buka hp, saya mencari file pdf tiket yang terlebih dulu telah dipesan oleh kakak ku lewat Traveloka. Tiket digital. Tidak butuh print tiket berbentuk kertas. Tak repot memanglah, cukup perlihatkan file itu waktu check-in serta semuanya beres.

Salim (salaman pada orang yang lebih tua) ke Uwa ku, lalu tidak lupa mengatakan terima kasih karna sudah menolong sistem seleksi tes sepanjang di Jakarta.

Check-in. Melalui beragam portal, di check oleh petugas. Lalu duduk ditempat tunggulah. Mungkin saja ada sekitaran satu jam saya menanti disana. Sembari kunyah roti lembut diisi selai coklat di dalamnya, saya menempatkan headset dengarkan lagu-lagu favorite yang cukup bikin terhibur. Sendirian.

Menanti yaitu hal yang menjemukan. Mataku nyaris tertutup rapat. Dendangan lagu mellow di telingaku membuatku mengantuk. Walau demikian, fokusku teralihkan ke beberapa kumpulan orang yang bergerombol melihat satu diantara tv ditempat tunggulah itu.

Headset kulepas, berusaha untuk mendengar beberapa nada yang ramai. Pas di samping kanan tempat saya bertumpu, agak jauh dari pandangan. Beberapa kumpulan orang itu terlihat mantap menancapkan perhatian mereka ke monitor tv.

Beberapa dari mereka sama-sama bicara keduanya. Tidak bisa kudengar pembicaraan itu, namun berkesan begitu serius.

Karna rasa penasaran yang telah tidak tertahan, saya yang semula tidak perduli dengan benda elektronik berupa kotak dengan penampilan gambar-gambar menarik coba sedikit melirik.

Benda itu pas ada di depan tempat saya duduk. Menghadirkan satu gambar peristiwa yang pada hari itu bikin cemas kebanyakan orang di belahan Jakarta yang lain.

Satu insiden penembakan. berlangsung di dekat satu cafe kopi internasional. Reaksiku? Saat bodo. Umum saja. Toh bukanlah di bandara, kan?
Begitu juga dengan beberapa orang di bandara, mereka seperti tidak perduli dengan berita itu. Dengan cara nalar, buat apa cemas bila penembakan berlangsung ditempat yang jauh dari bandara. Kembali menempatkan headset. Pilih lagu-lagu mellow lalu. Rasa kantuk kembali menyerang.

Sebagian jam berselang, dengan headset masih tetap terpasang di telinga. Sayup-sayup saya mendengar nada perempuan yang lembut. Perempuan itu menyampaikan kalau penumpang pesawat dengan maksud Banjarmasin untuk selekasnya masuk ke pesawat. Itu yaitu panggilan paling akhir.

Selekasnya saya terlepas headset untuk memastikannya. Itu benar.

Kritis! Saya terlambat!

Leave a Comment